17 Februari 2026 4:55 am
.
4 min read
AXIALNEWS.id | Program yang di usung oleh Kabinet Merah Putih ini memiliki pro dan kontra baik dikalangan menegah atas maupun menengah bawah, kita buka satu persatu pro dan kontranya yang terjadi saat ini.
Membuka lapangan pekerjaan ditengah maraknya pengangguran yang cukup tinggi di negara ini, bayangkan 1 MBG mempekerjakan sekitar 47 hingga 60 tenaga kerja, terutama untuk kapasitas layanan 3.000 porsi per hari. Tenaga kerja ini terdiri dari staf inti (kepala dapur, ahli gizi, akuntan) dan warga lokal (juru masak, logistik, pengemudi).
Dengan data terbaru menunjukkan sekitar 22.000 dapur telah beroperasi per Februari 2026, menciptakan sekitar 1 juta lapangan kerja, meskipun angka ini bervariasi tergantung laporan dari bulan ke bulan, dengan target terus berkembang. Beberapa laporan lain menyebutkan angka di kisaran 17.000 hingga 19.000 dapur yang sudah terbentuk pada akhir 2025.
Jika MBG diserahkan kepada setiap Ibu Rumah Tangga diseluruh Indonesia berdasarkan data awal 2026, program Makan Bergizi Gratis (MBG) di seluruh Indonesia diproyeksikan memproduksi sekitar 59,8 juta porsi per hari melalui 21.102 dapur layanan gizi (SPPG).
Target cakupan program ini terus diperluas untuk menjangkau hingga 82 juta penerima manfaat. Maka 82 juta ibu rumah tangga menerima manfaat untuk tambahan belanjanya dirumah senilai 15.000/porsi x 26hari = 360.000/bln untuk 1 anak, sangat meringankan beban belanja seorang ibu rumah tangga dengan makanan bergizi untuk 1 orang anak dan keluarga.
Menguntungkan bagi para kalangan miliyarder yang membuka Dapur MBG karena keuntungan yang fantastis dan tidak mungkin dari kalangan menengah apa lagi menengah kebawah. Pemilik MBG dari semua PARPOL KELUARGA PEJABAT PUNYA DAPUR MBG. Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang mengakui bahwa seluruh partai politik memiliki Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau dapur Makan Bergizi Gratis. Selain parpol, dapur MBG juga dikelola oleh Polri dan TNI.
Baca Juga Peringatan HUT ke-1 Gobor Binjai Diapresiasi SMSI
Dari keuntungan mereka para miliyarder ini dapat menolong seluruh anggota keluarga Indonesia yang anaknya sedang bersekolah dan keuntungan terbagi secara adil dan merata, dari keuntungan yang mencapai RATUSAN JUTA perbulan dari 1 Dapur MBG, harusnya dibagi dari rakyat kembali untuk rakyat, dimanakah letak sila ke 5 keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia? Apakah hanya untuk para PARPOL, PEJABAT, POLRI & TNI yang berbagi kue?
Sangat menguntungkan supplier/ distributor tingkat DEWA sebagai pemasok bahan baku MBG seperti Ayam, Ikan, Telur dll. Harus memiliki legalitas usaha (PT/CV/Koperasi, NIB, NPWP), sertifikasi keamanan pangan (Halal, BPOM, atau SLHS), serta kemampuan pasok konsisten dalam volume besar.
Baca Juga Setelah TikTok Shop, Pedagang Toko Offline Minta Semua Platform Jualan Online Ditutup, Pelanggan Ucap “Tidak Mengikuti Perkembangan Zaman”
Berbagi dengan perusahaan kaya dan pemasok besar yang punya modal besar, BUKAN berbagi kepada UMKM dan pedagang pasar tradisional, dan kedai kelontong. Jika ditangan ibu rumah tangga belanja kebutuhan makanan bergizi tersebut pasti diseputaran rumah tempat tinggal keluarga bermukim. UMKM, pasar tradisional dan toko kelontong kecipratan dalam pengadaan bahan baku tersebut untuk makanan bergizi anaknya sehari-hari maka akan adil dan merata.
Curhatan pedagang ayam potong dijatah karena pasokan sedikit, ayam potong menjadi mahal karena BAHAN BAKU MBG rata-rata 50% mengkonsumsi ayam potong. Kami UMKM yang mengunakan bahan baku ayam juga sangat merasakan dampaknya, bahan baku yang mahal maka harga produksi juga akan semakin meningkat dan daya beli semakin menurun.
Meningkatkan Gizi anak bangsa dengan program ini bertujuan mengatasi kelaparan akut dan kronis serta meningkatkan pertumbuhan berat badan sebesar 0,37 kg per tahun dan tinggi badan sebesar 0,54 cm per tahun. Selain itu, program ini juga menargetkan peningkatan tingkat partisipasi siswa di sekolah hingga 10%, serta penambahan rata-rata kehadiran siswa sebanyak 4 hingga 7 hari per tahun.
Sementara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dilaporkan menyebabkan ribuan kasus keracunan di berbagai daerah sepanjang 2025 (lebih dari 11.000 kasus per Oktober), berlawanan dengan tujuan awalnya untuk peningkatan gizi. Penyebab utamanya adalah kontaminasi bakteri (E.coli, Salmonella), makanan basi akibat distribusi terlambat, serta lemahnya pengawasan rantai pasok dan sanitasi di dapur (SPPG). Meningkatkan gizinya dimana jikalau sudah banyak keracunan???
Baca Juga Digitalisasi Bank Syariah: Antara Peluang dan Tantangan di Era Fintech
Membantu orang tua karena meringankan beban ekonomi, menghemat waktu/tenaga dalam menyiapkan bekal, serta menjamin asupan gizi anak. Program ini mengurangi pengeluaran harian dan uang jajan, sekaligus membiasakan anak-anak makan makanan sehat secara teratur.
“BAHAN POKOK” menjadi mahal akibat MBG, AYAM yang awalnya 28rb-32rb/kg menjadi 38rb-45rb/kg, produksi BERAS pada periode Januari hingga Maret 2026 diperkirakan mengalami kenaikan sebesar 15,79%, TELUR 42.5%, SUSU 90rb/dus menjadi 115rb/dus, semua bahan baku makanan naik secara signifikan. Keluarga yang hidup pas-pasan semakin mengeluh akibat bahan pokok naik bukan membantu ekonomi keluarga malah 1 anak makan siang gratis 3 orang keluarga dirumah pasokannya bahan bakunya menjadi semakin mahal.
Solusi untuk MBG serahkan MBG kepada orang tua agar anak terjamin makanan bergizi gratisnya, berikan menu dan jadwalkan kepada orangtua agar diterapkan setiap hari, berikan konsekuensi kepada orangtua jika tidak sesuai dengan menu yang ditetapkan setiap harinya ambil alih oleh kantin sekolah, dari rakyat untuk rakyat bukan untuk pejabat.(*)
Penulis : Muhammad Ronny Suherza, Pemilik UMKM
News
Berita Teknologi
Berita Olahraga
Sports news
sports
Motivation
football prediction
technology
Berita Technologi
Berita Terkini
Tempat Wisata
News Flash
Football
Gaming
Game News
Gamers
Jasa Artikel
Jasa Backlink
Agen234
Agen234
Agen234
Resep
Cek Ongkir Cargo
Download Film